Mengenal Sosok Ki Ageng Basyariyah Lewat Buku Babad Sewulan

Buku Babad Sewulan: Jejak dan Ajaran Bagus Harun karya Muklisina Lahudin tidak hanya mengisahkan babad sebuah desa, yakni Desa Sewulan. Di balik nama desa yang terletak sekitar 8 kilometer di sebelah selatan Kota Madiun itu, tersimpan sejarah tua yang penting untuk ditelusuri. Melalui buku ini, Muklis—sapaan akrab Muklisina Lahudin—mengisahkan perjalanan seorang tokoh bernama Ki Ageng Basyariyah, yang juga dikenal dengan nama Bagus Harun.

Sebagaimana dituliskan Muklis, Bagus Harun merupakan tokoh yang memiliki nasab jelas. Ia dikenal sebagai pemimpin sekaligus ulama yang mendirikan pesantren di Pulosari maupun Sewulan. Dalam kancah politik, ia juga berperan dalam membantu kemenangan Sunan Pakubuwono II dalam perebutan takhta Mataram Kartasura melawan Sunan Kuning.

Dalam buku terbitan Quantum, cetakan pertama Maret 2021, Muklis menulis bahwa setelah Bagus Harun beserta pasukannya berhasil merebut kembali Kartasura dari Sunan Kuning dan Kapiten Sepanjang, Sunan Pakubuwono II merasa berutang budi kepada Kiai Kasan Besari dan Kiai Bagus Harun. Sebuah hadiah besar menanti, yakni kedudukan sebagai adipati. Namun, Bagus Harun memilih jalan mandeg pandhita. Ia lebih memilih membina masyarakat Sewulan.

Dalam salah satu versi cerita yang hidup secara turun-temurun, hadiah berupa tanah perdikan Sewulan kemudian diberikan oleh Pakubuwono II kepada Bagus Harun atas jasa-jasanya dalam memadamkan pemberontakan dan merebut kembali takhta Kartasura.

Dalam prolog bukunya, Muklis menceritakan bahwa ia lahir di Ngawi, sekitar 40 kilometer dari Sewulan. Pada usia sembilan tahun, ia diasuh oleh sang kakek di Sewulan. Beragam kenangan selama tinggal di Sewulan hingga tamat sekolah dasar masih melekat kuat dalam ingatannya, mulai dari bermain di sekitar masjid hingga belajar dan bersekolah Arab.

Muklis, yang setelah menikah menetap di Baturetno, Bantul, mengungkapkan ketertarikannya menulis buku Babad Sewulan: Jejak dan Ajaran Bagus Harun. Ketertarikan itu tidak lepas dari sejumlah peristiwa yang membekas dalam hidupnya. Salah satunya adalah ketika sang ibu, pada tahun 2010, sangat menikmati perjalanan ke Keraton Yogyakarta dan kemudian kerap mengajaknya bersilaturahmi kepada kerabat di Sewulan. Selain itu, ada pula keinginan ibunya untuk dimakamkan di Sewulan kelak setelah wafat.

Rasa ingin tahu Muklis terhadap silsilah leluhurnya dari Sewulan kemudian menuntunnya melakukan perjalanan ziarah kubur, atau nyarkub, dari satu makam ke makam lainnya, khususnya ke makam para wali yang memiliki hubungan dengan Sewulan.

“Buku Babad Sewulan: Jejak dan Ajaran Bagus Harun ini merupakan jejak perjalanan ziarah atau nyarkub ke berbagai tempat dalam mencari jati diri dan leluhur. Sumber lain diambil dari buku karya Drs. Muh. Baidhowi, sesepuh Sewulan, ditambah berbagai sumber lain,” kata Muklis, Kamis, 25 Maret 2021.

Muklis berharap penerbitan buku tersebut dapat menambah wawasan sekaligus membuka wacana baru bagi para pemerhati sejarah Sewulan. Buku ini juga diharapkan memberi manfaat bagi dzurriyah Basyariyah serta masyarakat luas yang ingin meneladani perjalanan hidup Kiai Ageng Basyariyah. Sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, keturunan Ki Ageng Basyariyah banyak berkontribusi dalam membangun Nusantara dari masa ke masa sebagai tokoh di berbagai bidang. Selain itu, dipaparkan pula ajaran-ajaran Ki Ageng Basyariyah secara rinci dan tersaji dengan baik. Melalui buku ini, Muklis mengajak pembaca mengenal lebih dekat ketokohan Bagus Harun alias Ki Ageng Basyariyah beserta latar belakang peristiwa sejarah pada masanya.

SUKRON MAKMUN

Dimuat pertama kali di syarikatnews.com, 26 Maret  2021