Judul: Babad Sewulan, Jejak dan Ajaran Bagus Harun | Penulis: Muklisina Lahudin | Penerbit: Quantum, Yogyakarta | Cetakan: Pertama, Maret 2021 | Ukuran: 14 x 22 cm | Jumlah Halaman: xxviii + 276 | ISBN:
Sebagai wujud upaya menggali sejarah Basyariyah sesuai pakem yang hidup di Sewulan, Himpunan Desa Mandiri Indonesia (HDMI) berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur (Disbudpar Jatim) menggelar acara “Sarasehan Nasional dan Bedah Sejarah Kyai Ageng Basyariyah Sewulan” di UPT Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, pada Sabtu, 9 September 2023.
Mengenal Sosok Ki Ageng Basyariyah. Buku Babad Sewulan karya Muklisina Lahudin ini juga diharapkan memberi manfaat bagi dzurriyah Basyariyah serta masyarakat luas yang ingin meneladani perjalanan hidup Kiai Ageng Basyariyah. Sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, keturunan Ki Ageng Basyariyah banyak berkontribusi dalam membangun Nusantara dari masa ke masa sebagai tokoh di berbagai bidang.
Muklis, sapaan akrabnya, mengibaratkan media sosial sebagai ombak di lautan luas, sedangkan dalam buku ada kedalaman lautan itu sendiri. Menurutnya, media sosial hanya menghadirkan permukaan informasi, sementara buku menawarkan pemahaman yang lebih dalam.
Resensi “Bagus Harun dan Jejaring Pesantren di Jawa”: isi buku Babad Sewulan, peran Bagus Harun, Geger Pacinan, Tegalsari–Sewulan, dan jejaring kiai.
Desa Perdikan adalah desa yang tanahnya dianugerahkan oleh raja kepada individu atau kelompok tertentu, biasanya karena peran keagamaan mereka. Tanah ini umumnya diberikan dengan syarat, seperti memelihara sekolah agama atau menjaga makam keramat.
Salah satu contohnya adalah kepercayaan yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta, yang menganggap hari pasaran Pahing sebagai hari yang bisa membawa kesialan. Keyakinan ini berakar pada peristiwa tragis yang telah terjadi berabad-abad silam.

